Seorang wanita merajah kakinya di London Tattoo Convention di Tobacco Dock, London, Inggris, 25 September 2015. Lebih dari 300 seniman tato dari seluruh dunia yang menunjukan keahliannya merajah tubuh. Dan Kitwood/Getty Images
TEMPO.CO, Yangon - Gara-gara mengumumkan punya tato wajah presiden di organ intimnya, penyair berbangsa Myanmar menjadi buronan polisi. Maung Saungkha seniman yang tinggal di Yangon, memposting puisi di laman Facebook-nya pada 8 Oktober 2015.
Tidak ada yang istimewa dalam puisi itu kecuali salah satu baitnya yang berbunyi, "Ada tato wajah presiden di kelamin saya," ujarnya. Polisi pun menggeledah rumah Saungkha yang didakwa mencemarkan nama baik Presiden Thein Sein. Untungnya, dia berhasil kabur.
Penyair dan penulis itu didakwa melanggar Pasal 66 Undang-undang Telekomunikasi Myanmar dengan ancaman hukuman maksimum tiga tahun penjara. Saungkha, yang menjalankan Poetry Lover Organization, menagku dia mengarang selarik bait yang dianggap mengganggu itu.
Tapi dia membantah telah mencemarkan nama baik Presiden. "Itu bisa saja Saddam Hussein, atau Assad. Mengapa mereka pikir yang dimaksud adalah U Thein Sein? Dalam puisi saya itu tidak satu pun kata-kata Myanmar disebut," kata Saungkha seperti dilansir Daily Mail.
Dia menyatakan terinspirasi pada para pendukung partai politik, yang membuat tato bergambar tokoh pujaannya lalu memotret dan mengunggahnya di media sosial. "Jika seseorang punya tato wajah orang yang dicintainya di dada, saya pikir mungkin mereka juga membuat tato wajah orang yang mereka benci," kata dia. "Lalu saya tulis puisi itu."
Maung Saungkha dikenal sebagai penulis muda berbakat. Karya pria 23 tahun itu diterbitkan di berbagai media cetak maupun online. Kasus serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Patrick Khum Jaa Lee, 43 tahun, ditangkap karena diduga mengedit wajah pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi pada tubuh wanita telanjang lalu mengunggahnya di media sosial.
No comments:
Post a Comment